Archive Page 2

Usah takut, Usah risau

Mengapa perlu takut andai kita berada di dalam kebenaran,
Mengapa perlu takut andai niat kita menginginkan kebenaran,
Mengapa perlu takut andai kita melakukan apa yang benar,

Mengapa perlu risau andai kita memiliki keyakinan yang benar,
Mengapa perlu risau andai kita meyakini niat kita itu benar,
Mengapa perlu risau andai kita melakukan dengan cara yang paling ehsan, yang paling benar,

Allah menginginkan kita mengimani yang benar,
Maka kita telah mengimani yang benar,
Allah menginginkan kita sentiasa berada di dalam kebenaran,
Maka kita telah berada dan sedang beristiqamah di dalam kebenaran,
Allah menginginkan kita sentiasa mengajak kepada kebenaran,
Maka kita telah dan masih lagi bekerja keras untuk mengajak kepada kebenaran,

Allah menginginkan kita inginkan kepada kebenaran,
Maka kita telah menginginkan akan sesuatu yang benar,
Allah menginginkan kita sentiasa memelihara diri dengan kebenaran,
Maka kita sedang berusaha memelihara diri dengan kebenaran,
Allah menginginkan kita menghindari Neraka dan mengejar Syurga,
Maka kita sedang berusaha menghindari dan sedang berlari kencang mengejar Syurga.

Allah menginginkan kita mencari keredhaanNya dengan cara yang diinginiNya,
Maka kita sedang berusaha mencari keredhaanNya dengan cara yang diinginiNya.

Andai niat kita sesuai dengan apa yang Allah inginkan,
Andai usaha kita sesuai dengan apa yang Allah inginkan,
Mengapa perlu takut,
Mengapa perlu risau,
Kemenangan itu, Allah-lah yang memilikinya,
Dan pasti, kemenangan itu adalah untuk kita,
Andai kita orang yang benar.

Cuma perlu sentiasa meluruskan niat,
Cuma perlu sentiasa mengehsankan amal,
Cuma perlu sentiasa bekerja keras,
Cuma perlu sentiasa bersabar dan yakin,

Jalan ini adalah jalan yang panjang,
Pasti ada yang meneruskannya,

Untuk yang sedang takut dan risau dalam melakukan pembaikan dengan cara yang benar…

Usah takut, usah risau, anda di dalam dalam kebenaran, kebenaran pastinya ada tentangan… dan ujian.

Nilai Sebuah ‘alhamdulillah’

Mulailah segala sesuatu dengan basmalah dan akhirilah dengan membaca hamdalah. Tentu ajaran ini sudah di luar kepala bagi setiap muslim, walau kadang masih saja terlewat.

Namun ada sesuatu yang membuat kita mengernyitkan dahi ketika ajaran seperti itu diterapkan tidak pada tempatnya. Bisakah hal itu terjadi?

Kita ambil contoh, dalam suatu malam penganugerahan kepada para insan perfilman, seorang pemeran utama naik ke panggung dengan pakaian “seadanya” untuk menerima penghargaan sebagai pemeran terbaik, setelah menerima award seperti lazimnya, ia memberikan sepatah dua patah kata dan tak lupa ia mengucapkan salam dan puji syukur, bahkan kadang disertai sujud syukur, “Alhamdulillah berkat Allah saya dapat memenangkan award ini, bla…bla…bla…”

Di sisi lain kita tahu bagaimana, sebagai apa, peran artis tersebut dalam suatu film, memang sih aktingnya bagus, tapi dia berperan seronok yang jauh dari pesan-pesan moral dan tuntunan agama. Suatu ketulusan yang tidak pas, suatu ketulusan yang mungkin tepat waktu, tapi tidak tepat sasaran. Tepat waktu karena dia mendapatkan anugerah yang tentu tidak semua orang bisa meraihnya, tapi tidak tepat sasaran karena apa yang ia lakukan sehingga mendapat anugerah tersebut.

Contoh yang lebih sederhana, seorang pelajar atau mahasiswa, ketika dalam suatu ujian dia mengalami kebuntuan, tiba-tiba terpikir untuk melirik jawaban teman di bangku sebelah, karena tidak biasa nyontek, “deg-degan juga nih”, tapi karena godaan begitu kuat (dasar syetan!) akhirnya diputuskan juga untuk melirik jawaban dari tetangga sebelah yang kebetulan terkenal pintar, dan tak lupa dia menerapkan ajaran di awal tulisan ini, dia mengucap “Bismillaahirrahmaanirrahiim, semoga tidak ketahuan‬ dengan penuh ketulusan, lhoo….?

Continue reading “Nilai Sebuah ‘alhamdulillah’”

Hijrahkan Diri Kita

Tak terasa tahun baru Islam 1428 H telah datang. Kembali kita teringatkan bagaimana Rasulullah melakukan strategi perjuangan untuk menegakkan risalahnya. Meninggalkan kota Makkah menuju kota Madinah.

Sebuah strategi mewujudkan kondisi yang lebih kondusif sehingga memungkinkan panji-panji Islam berkibar dan ajaran-ajarannya bisa terwujudkan dalam keseharian hidup mereka. Dalam perjalanannya yang berjarak 450 KM, panas menyengat terlewati, begitu juga menembus malam yang gelap menyusuri bukit-bukit dan padang gersang. Semuanya itu dilakukan bukan karena rongrongan orang kafir Quraisy, tetapi dilandasi atas dasar perintah Allah SWT.

Dari perjalanan itu, sebuah tafsir bisa kita maknai. Tak sekedar perjalanan fisik semata, hijrah dari suatu tempat ke tempat lain, tetapi juga perjalanan psikologis. Rela berkorban meninggalkan harta mereka dan kecintaan terhadap dunia demi membangun kekuatan baru.

Sebuah kekuatan yang menjadikan ukhuwah semakin erat antara kaum muhajirin dan kaum Anshor (Madinah). Sejarah telah membuktikan bagaimana persaudaraan itu terbanguan atas dasar ikatan iman yang mendasari saling membantu dan meringankan beban saudaranya. Sungguh, sebuah solidaritas yang kini tak mudah kita temui.

Di zaman kita kini, apa yang bisa kita petik dari sejarah hijrah itu..?

Continue reading “Hijrahkan Diri Kita”

Inilah aku, lantas siapa kamu?

Aku adalah pengembara yang mencari hakikat, manusia yang mencari makna kemanusiaan di tengah masyarakat dan warga negara yang menginginkan agar umatnya mendapat kemuliaan, kemerdekaan, kestabilan dan kehidupan yang baik dalam naungan Islam yang hanif. Aku adalah lelaki yang bebas yang telah mengetahui rahsia keberadaannya, kemudian berseru, “sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Dengan itulah aku diperintah dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.

Inilah aku, lantas siapa kamu?

Mencari Kehidupan

Mencari kehidupan tidak semudah orang lain apabila ada tanggungjawab-tanggungjawab yang perlu dipikul dan matlamat-matlamat yang perlu dicapai. Apatah lagi melihatkan, ramai yang sibuk menghabiskan masa untuk mencari kehidupan dan tersalah memandang tujuan hidup hanya sekadar untuk itu. Dan kerana itu, aku menjadi takut, teramat takut, kerana khuatir akan turut menyertai mereka-mereka yang berusaha, menghabiskan masa untuk satu bahagian dari Islam. Sedangkan banyak bahagian-bahagian lain yang perlu dipenuhi malah ada bahagian yang lebih utama untuk dipenuhi.

Tapi, benci macam mana pun, mencari kehidupan juga adalah satu dari berbagai tanggungjawab yang perlu dipenuhi, dan bahagian yang satu inilah adalah salah satu jalan yang akan membawa kepada jalan selain jalan yang sepatutnya kita lalui.

Hm.. sekadar luahan.

Perkenalkan, Kami Adalah Muslim!

Oleh: Akmal
Sumber: http://akmal.multiply.com/journal/item/399

Assalaamu’alaikum wr. wb.

Perkenalkan. Kami ini Muslim.

Islam adalah nama agama kami. Artinya adalah “selamat” atau “tunduk patuh.” Kami telah bersaksi bahwa tidak ada ilah selain Allah semata. Anda tidak tahu ilah? Ilah adalah sesuatu yang diharapkan, ditakuti, dicintai, dan dipatuhi oleh manusia. Itulah pernyataan loyalitas yang kami ulang sedikitnya sembilan kali dalam sehari semalam.

Kami adalah manusia yang merdeka. Merdeka dari desakan hawa nafsu. Tidak mudah, tapi kami selalu berusaha untuk tetap loyal pada satu-satunya ilah kami. Kami bukan termasuk orang-orang yang tunduk pada keinginannya pribadi. Kami juga tidak tunduk pada godaan kesenangan badani belaka. Kami merdeka karena tunduk pada Allah semata.

Bagi kami, tidak ada yang absolut kecuali Allah. Kami tidak mengutak-atik Kitab Suci kami, bahkan tidak berani sekedar untuk menambah satu kata atau huruf baru ke dalamnya. Kami tidak berani untuk berpikir bahwa kami lebih tahu urusan kami sendiri. Ada Yang Maha Tahu yang akan menyelesaikan segala urusan kami. Kami berani di hadapan manusia dan takut di hadapan Allah, lantang di hadapan diktator dan menyerah tanpa syarat di hadapan Allah. Jangan bingung. Ini hanya masalah menempatkan diri pada kedudukannya yang benar.

Kami ini Muslim. Continue reading “Perkenalkan, Kami Adalah Muslim!”

Selamat Tahun Baru 2007

Erm.. bulan sebelas tahun 2006 menyaksikan aku terlalu rajin menulis sesuatu di blog aku. Dan bulan dua belas 2006 pula menyaksikan aku terlalu malas untuk menulis sesuatu di blog aku. Sedar-sedar, ari ini, adalah hari kedua aku dalam tahun 2007.

Erm, ada apa dengna tahun baru ini. Aku rasa sama je macam tahun-tahun lain, tak lain tak bukan, hanya satu transisi hari-hari yang perlu dilalui. Hari-hari yang perlu aku lalui dengan baik, dan aku tahu, aku mampu melaluinya lebih baik dari ini.

Dan penggal ini, bakal menyaksikan aku terus berusaha untuk menjadi yang lebih baik untuk TuhanNya. Lalu berjaya menyelesaikan beberapa urusan yang perlu aku selesaikannya dengan hanya izin dari Allah. Urusan-urusan yang tertangguh sekian lama. Dan peranan sebagai yang dididik dan yang mendidik dapat dipenuhi dengan hampir sempurna. Dan kualiti pengorbanan menjadi semakin baik untuk dihadiahkan kepada TuhanNya. InsyaAllah. Andai usaha-usaha yang sedang dilakukan ini, diperkenankan Allah untuk dituai hasilnya, maka kejayaanlah yang aku akan miliki. Jika tidak, tak kisahlah.. papela.. tadahal. Haha.

OKeh, calo dulu. Assalamualaikum.

Selamat Tahun Baru 2007.

Bisikan-bisikan

Dan jika syaitan datang menggodamu, maka berlindunglah kepada Allah.[1] Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila mereka dibayang-bayangi fikiran jahat (berbuat dosa) dari syaitan, mereka pun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya).

Al-A’raaf: 200-201

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, Sembahan manusia dari kejahatan (bisikan) syaitan yang bersembunyi, yang membisakan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.”

An-nas:1-6

Footnotes:
  1. Membaca A’uuzu billaahi minasy-syaitaanir-rajiim

Cerita hati

Aku mahu bercerita tentang hati. Tetapi tiada kata yang dapat ditulis. Tiada ayat yang dapat disusun. Hanya yang ada cumalah rasa yang aku rasai. Hati itulah punca kekuatan muslim. Hati itulah titik tolaknya pembenaran itikadnya melalui amal perbuatan. Hati itulah yang perlu dijaga. Hati itulah yang perlu diberi makanan. Hati itulah yang perlu dibasahi. Kerana hati itulah yang selalu bergoncang untuk memilih antara dua jalan yang telah diilhamkan. Dan hati itulah yang perlu ditundukkan agar sentiasa kekal di dalam keadaan fitrahnya.

Apabila hati telah terasa ancaman antara kemaksiatan dan ketaatan, perlu segera dibasahkan dengan zikrullah. Di dalam hati jugalah mulanya sangkaan-sangkaan yang dapat mengantarkan empunya diri ke neraka. Andai hanya ingin dicintai oleh Allah, maka luruskanlah niat, luruskanlah hati. Agar sentiasa ikhlas hidup semata-mata kerana Allah. Semoga hati itu sentiasa kuat untuk melawan bisikan-bisikan syaitan yang hanya menginginkan maksiat dari ketaatan.

Para shidiqqin

Abu Wail, ia berkata, Abdullah bin Mas’ud mengatakan:

“Sesungguhnya setelah mengamati hati para hamba, Allah Ta’ala memilih Muhammad S.A.W. Allah mengutus beliau membawa risalahNya dan Dia memilih beliau dengan ilmuNya. Selanjutnya setelah mengamati lagi hati para hamba, Allah Ta’ala memilih untuk beliau para sahabat dan menjadikan mereka sebagai pembela-pembela agamaNya dan duta NabiNya. Apa yang menurut orang-orang Mukmin baik, menurut Allah juga baik. Dan apa yang menurut mereka buruk, menurut Allah juga buruk.”

Dalam lafaz Imam Ahmad berbunyi:

“Sesungguhnya Allah memandang hati para hamba, lalu Allah mendapati hati Muhammad S.A.W sebaik-baik hati mereka. Oleh kerana itulah Allah lalu memilih beliau untuk diriNya dan mengutus beliau untuk membawa risalahNya. Selanjutnya Allah memandang lagi hati para hamba, dan mendapati hati para sahabat sebaik-baiknya hati para hamba. Lalu Allah menjadikan mereka sebagai para pembantu NabiNya yang bersedia berperang demi membela agamaNya. Maka apa yang menurut kaum Muslimin baik, menurut Allah juga baik. Dan apa yang menurut mereka buruk, menurut Allah juga buruk.”

Surah al-Maidah ayat 54:

Wahai orang-orang beriman! Barangsiapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan satu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintaiNya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut pada celaan orang yang suka mencela. Itulah kurnia Allah yang diberikanNya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya), Maha Mengetahui.

Adakah kita tergolong di dalam golongan ini? Atau kita sudah jauh dari ciri-ciri golongan ini?

Categories