Tajuk: Cepatlah, Sebelum Terlambat!!!
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Muroja’ah: Ustadz Abu Saad
Sumber: Muslim.or.id
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Alloh dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Robb-mu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah (surga) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Alloh tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Robb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.� (QS At Tahriim:
![]()
Hari demi hari berlalu, dosa demi dosa kita perbuat, kemaksiatan demi kemaksiatan menorehkan luka menganga dan noda-noda hitam di dalam hati kita, Maha Suci Alloh !! Seolah-olah tidak ada hari kebangkitan, seolah-olah tidak ada hari pembalasan, seolah-olah tidak ada Zat yang maha melihat segala perbuatan dan segala yang terbesit di dalam benak pikiran, di gelapnya malam apalagi di waktu terangnya siang, Innalloha bikulli syai’in ‘aliim (Sesungguhnya Alloh, mengetahui segala sesuatu).
Allohumma, betapa zalimnya diri ini, bergelimang dosa dan mengaku diri sebagai hamba, hamba macam apakah ini? yang tidak malu berbuat maksiat terang-terangan di hadapan pandangan Robb ‘azza wa jalla, wahai jiwa… kenalilah kehinaan dirimu, sadarilah keagungan Robb yang telah menciptakan dan memberikan nikmat tak berhingga kepadamu, ingatlah pedihnya siksa yang menantimu jika engkau tidak segera bertaubat.
Cepatlah kembali tunduk kepada Ar Rahman, sebelum terlambat. Karena apabila ajal telah datang maka tidak ada seorang pun yang bisa mengundurkannya barang sekejap ataupun menyegerakannya, ketika maut itu datang… beribu-ribu penyesalan akan menghantui dan bencana besar ada di hadapan; siksa kubur yang meremukkan dan gejolak membara api neraka yang menghanguskan kulit-kulit manusia, subhaanalloh, Innalloha syadiidul ‘iqaab (sesungguhnya Alloh, hukuman-Nya sangat keras). Padahal tidak ada satu jiwa pun yang tahu di bumi mana dia akan mati, kapan waktunya, bisa jadi seminggu lagi atau bahkan beberapa detik lagi, siapa yang tahu? Bangkitlah segera dari lumpur dosa dan songsonglah pahala, dengan sungguh-sungguh bertaubat kepada Robb tabaaraka wa ta’ala.
Hakikat dan Kedudukan Taubat
Imam Nawawi rohimahulloh berkata, “Para ulama mengatakan: Taubat itu wajib dilakukan untuk setiap dosa yang diperbuat� (Syarah Riyadhu Shalihin, I/56). Beliau juga berkata, “(Taubat) itu memiliki tiga rukun: meninggalkannya, menyesal atas perbuatan maksiatnya itu, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya selama-lamanya. Apabila maksiat itu berkaitan dengan hak manusia, maka ada rukun keempat yaitu membebaskan diri dari tanggungannya kepada orang yang dilanggar haknya. Pokok dari taubat adalah penyesalan, dan (penyesalan) itulah rukunnya yang terbesar� (Syarah Muslim, IX/12).
Beliau rohimahulloh juga mengatakan, “…Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa taubat dari segala maksiat (hukumnya) wajib, dan (mereka juga sepakat) taubat itu wajib dilakukan dengan segera dan tidak boleh ditunda-tunda, sama saja apakah maksiat itu termasuk dosa kecil atau dosa besar. Taubat merupakan salah satu prinsip agung di dalam agama Islam dan kaidah yang sangat ditekankan di dalamnya, ..� (Syarah Shahih Muslim, IX/12).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh berkata, “Taubat secara bahasa artinya kembali, adapun menurut syariat taubat artinya kembali dari mengerjakan maksiat kepada Alloh ta’ala menuju ketaatan kepada-Nya. Taubat yang terbesar dan paling wajib adalah bertaubat dari kekufuran menuju keimanan. Alloh ta’ala berfirman,
“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Alloh akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu� (QS Al Anfaal: 38).
Kemudian tingkatan berikutnya adalah bertaubat dari dosa-dosa besar, kemudian diikuti dengan tingkatan ketiga yaitu bertaubat dari dosa-dosa kecil� (Syarah Riyadhu Shalihin, I/56).
Al Quran Memerintahkanmu Bertaubat
Alloh ta’ala berfirman,
Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung�. (QS An Nuur: 31)
Syaikh Abdur-Rahman bin Nashir as-Sa’di rohimahulloh mengatakan setelah menyebutkan penggalan ayat “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Alloh, Hai orang-orang yang beriman�: Sebab seorang mukmin itu, (memiliki) keimanan yang menyerunya untuk bertaubat, kemudian (Alloh) mengaitkan taubat itu dengan keberuntungan, Alloh berfirman (yang artinya): “supaya kamu beruntung� maka tidak ada jalan menuju keberuntungan kecuali dengan taubat, yaitu kembali dari segala sesuatu yang dibenci Alloh, lahir maupun batin, menuju segala yang dicintai-Nya, lahir maupun batin. Dan ini menunjukkan bahwasanya setiap mukmin itu membutuhkan taubat, sebab Alloh menujukan seruan-Nya kepada seluruh orang yang beriman. Dan di dalam (penggalan ayat) ini juga terkandung dorongan untuk mengikhlaskan taubat, yaitu dalam firman-Nya (yang artinya) “Dan bertaubatlah kepada Alloh� artinya: bukan untuk meraih tujuan selain mengharapkan wajah-Nya, seperti karena ingin terbebas dari bencana duniawi atau karena riya dan sum’ah, atau tujuan-tujuan rusak yang lainnya� (Taisir Karim ar-Rahman, hal. 567).
Imam Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan: “Sesungguhnya keberuntungan yang sebenarnya berada pada (ketundukan) melaksanakan apa yang diperintahkan Alloh dan Rasul-Nya, serta dengan meninggalkan apa yang dilarang oleh keduanya, Wallohu ta’ala huwal musta’aan (Dan Alloh-lah satu-satunya tempat meminta pertolongan).� (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, V/403).
As Sunnah Memerintahkanmu Bertaubat
Dari Abu Hurairoh rodhiallohu ‘anhu dia berkata, Aku pernah mendengar Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Demi Alloh, sesungguhnya aku meminta ampun/beristighfar kepada Alloh dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih banyak dari 70 kali� (HR. Bukhari, dinukil dari Syarah Riyadhu Shalihin, I/64).
Dari Al Agharr bin Yasar Al Muzanni rodhiallohu ‘anhu, dia berkata: Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Alloh dan minta ampunlah kepada-Nya, sesungguhnya aku ini bertaubat 100 kali dalam sehari� (HR. Muslim, dinukil dari Syarah Riyadhu Shalihin, I/64).
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh mengatakan, “Di dalam dua hadits ini terdapat dalil kewajiban bertaubat, karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkannya, beliau bersabda (yang artinya), “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Alloh� sehingga apabila seorang insan bertaubat kepada Robbnya maka dengan sebab taubat itu akan diperoleh dua faedah :
Faidah pertama, Melaksanakan perintah Alloh dan Rasul-Nya. Sedangkan dengan melaksanakan perintah Alloh dan Rasul-Nya (itulah) terkandung segala kebaikan. Di atas (kepatuhan) melaksanakan perintah Alloh dan Rasul-Nya itulah terdapat poros dan sumber kebahagiaan dunia dan akhirat.
Faidah kedua, Meneladani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, di mana beliau itu senantiasa bertaubat kepada Alloh dalam sehari sebanyak 100 kali, yakni dengan mengucapkan: Atuubu ilalloh, atuubu ilalloh (aku bertaubat kepada Alloh),…dst.� (Syarah Riyadhu Shalihin, I/65).
Beliau rahimahullah juga berkata, “Dan di dalam kedua hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling taat beribadah kepada Alloh, dan memang demikianlah sifat beliau. Beliau itu adalah orang yang paling takut kepada Alloh di antara kita, beliau orang paling bertakwa kepada Alloh di antara kita, dan beliau adalah orang paling berilmu tentang Alloh di antara kita, semoga sholawat dan keselamatan dari-Nya senantiasa tercurah kepada beliau. Dan di dalamnya juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa beliau ‘alaihi shalatu wa salam adalah sosok pengajar kebaikan dengan ucapannya dan dengan perbuatannya. Beliau senantiasa beristigfar kepada Alloh dan menyuruh orang-orang agar beristigfar, sehingga mereka pun bisa meniru beliau, demi melaksanakan perintahnya dan mengikuti perbuatannya. Ini merupakan bagian dari kesempurnaan nasihat yang beliau berikan kepada umatnya, shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihi. Maka sudah semestinya kita juga meniru beliau, apabila kita memerintahkan sesuatu maka hendaknya kita adalah orang pertama yang melaksanakan perintah ini. Dan apabila kita melarang sesuatu hendaknya kita juga menjadi orang pertama yang meninggalkannya, sebab inilah sebenarnya hakikat da’i ilalloh (penyeru kepada agama Alloh), bahkan inilah hakikat dakwah ilalloh ‘azza wa jalla, anda lakukan apa yang anda perintahkan dan anda tinggalkan apa yang anda larang, sebagaimana Rasul shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita bertaubat dan beliau ‘alaihi shalatu wa sallam juga bertaubat (bahkan) lebih banyak daripada kita. Kita mohon kepada Alloh untuk menerima taubat kami dan anda sekalian, serta semoga Dia memberi petunjuk kepada kami dan anda sekalian menuju jalan yang lurus. Wallohul muwaffiq (Alloh lah pemberi taufiq)� (Syarah Riyadhu Shalihin, I/66).

